Menangkap Eloknya Kebudayaan Pulau Dewata Melalui Pura Suci Tirta Empul

71 views

Alamat: Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar
HTM: Rp.15.000 per orang
Jam buka/tutup: 07:00 – 17:00 WITA
Map: KlikDisini

foto by instagram.com/myhautelife/

Pulau Dewata adalah sebuah provinsi yang diapit oleh Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Barat dengan luas mencapai 5.600 meter persegi.

Dengan total penduduk mencapai 4,3 juta jiwa, salah satu destinasi wisata terbanyak berada di pulau ini mulai dari pantai hingga kawasan pegunungan. Terdapat salah satu kawasan pura suci yang terkenal di Bali dan sangat ramai dikunjungi, yakni Pura Tirta Empul.

Sejarah Pura Tirta Empul

Sejarah berdirinya tempat ini berawal dari sebuah legenda seorang raja yang tamak dengan para dewa. Konon katanya, Pura Tirta Empul perseteruan diantara keduanya terjadi di bangunan suci kuno ini.

foto by instagram.com/pricillaklein/

Berawal ketika bertahtanya seorang Raja Kerajaan Bali yang sakti bernama Mayadanawa yang berasal dari keturunan Daitya atau raksasa. Beliau adalah anak dari Dewi Danu Batur.

Kesaktian yang dimilikinya yakni mampu berubah bentuk sesuai dengan keinginannya. Dengan kesaktian tersebut, beliau berhasil menduduki kerajaan lain seperti Bugis, Makasar, Sumbawa, Lombok dan Blambangan.

Tahta dan kekuasaan tersebut menjadikannya seorang raja yang tamak kemudian melarang rakyatnya untuk menyembah dewa dan justru memerintahkan untuk menyembah dirinya.

Sejak saat itu bencana dan kehancuran mulai melanda, berikut munculnya berbagai wabah penyakit. Bersamaan dengan itu Mpu Kul Putih melakukan semedi untuk memohon bantuan dan datanglah Dewa Bathara Indra untuk menaklukan Sang Raja.

foto by instagram.com/fennawaterlander/

Peperangan pun tak terelakan, namun Sang Raja merasakan kekalahannya kemudian ia melarikan diri ke Kawasan Tampaksiring dan kesaktiannya berubah menjadi sebuah mata air beracun namun Sang Dewa merubahnya menjadi mata air suci dan membuat tempat peribadatan untuk ritual yang kini dikenal dengan Pura Tirta Empul.

Baca Juga  Ternyata Terdapat Monumen Bom Bali di Pulau Dewata, ini Dia 12 Fotonya

Bersamaan dengan itu, pengejaran Sang Raja berujung pada kematiannya karena Sang Dewa memanah sebua batu paras, batu tersebut tak lain adalah Raja Mayadanawa.

Kematiannya terseutlah yang hingga kini diperingati sebagai Hari Raya Galungan oleh pemeluk agama Hindu, perayaan tersebut bermakna dharma atau kebaikan atas adharma atau keburukan.

Lokasi dan Rute Perjalanan

foto by instagram.com/travelholic_a/

Pura ini sendiri berlokasi di Desa Manukaya, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar. Jika Anda ingin menuju kawasan ini diwajibkan membawa kendaraan pribadi karena tidak tersedianya kendaraan umum.

Namun terdapat beberapa pilihan transportasi seperti sepeda motor, mobil sewaan maupun taksi online. Jika Anda bertolak dari Denpasar, untuk mencapai pura ini membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan rute Denpasar – Ubud – Kintamani.

Dari Bandara Internasional Ngurah Rai sendiri, pura ini berjarak 50 kilometer dan dapat dicapai dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit.

Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional

foto by instagram.com/daianafernandez/

Tempat ini mematok harga tiket masuk sebesar Rp.15.000 per orang dengan jam operasional setiap hari pukul 07:00 – 17:00 WITA.

Namun pada saat perayaan tertentu seperti hari besar keagamaan, tempat ini hanya dibuka untuk peribadatan saja. Bagi Anda yang membawa kendaraan, untuk parkir kendaraan roda dua dikenakan tarif parkir Rp.2.000 dan roda empat sebesar Rp.5.000 saja.

Tradisi Pura Tirta Empul

Pura ini memiliki tradisi turun temurun yang dilakukan yakni melukat. Ritual ini sudah dilakukan sejak abad ke – 10. Melukat sendiri merupakan ritual menyucikan diri di kolam pemandian yang ada di kawasan ini.

Ritual ini diawali dengan meletakan canang di atas batu pancuran air untuk kemudian diisikan dupa yang dibakar dan diberi doa untuk selanjutnya memulai ritual selanjutnya.

foto by instagram.com/cousinsonboard/

Namun, sebelum menceburkan diri ke kolam, umat Hindu diharuskan melakukan sembahyang kepada Dewa lalu berjalan ke sebuah kolam yang berisi 13 pacuran air suci. Kemudian memanjatkan doa dan berendam sambil membasuh muka mereka secara perlahan.

Baca Juga  Berkunjung Ke Pulau Dewata? Jangan Lewatkan Wisata Belanja di Discovery Shopping Mall

Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan berjalan ke sebuah tirta namun terlebih dulu dianjurkan untuk memanjatkan doa lalu kembali membersihkan diri.

Usai melakukan ritual dalam kolam, Anda diharuskan mengeringkan diri dan mengganti pakaian untuk selanjutnya berkumpul di halaman dalam dari pura ini.

Kini, ritual ini tak hanya dilakukan oleh pemeluk agama Hindu saja melainkan pengunjung juga diperkenankan untuk mengikuti prosesi ini. Tentunya dengan syarat, pengunjung harus menggunakan samen (semacam sarung adat Khas Bali yang dikenakan umat Hindu Bali saat bersembahyang).

foto by instagram.com/danigraham123/

Memang tidak ada aturan baku tertulis yang digunakan oleh pura ini namun alangkah baiknya jika Anda hendak mengunjungi tempat ini menggunakan pakaian yang sopan demi menghormati pengunjung lain yang hendak beribadah.

Kompleks Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul sendiri terdiri dari tiga bagian, pertama adalah Nista Mandala yang merupakan bagian paling luar (Jaba Sisi).

Jaba Sisi adalah bagian terluar dari pura ini, tepatnya setelah Anda membayar tiket masuk Anda akan melihat sebuah gapura besar bergaya arsitektur tradisional Bali.

foto by instagram.com/guitosanchez/

Pada halaman tengahnya terdapat sebuah paviliun yang cukup besar dan dapat digunakan untuk berteduh atau berfoto – foto. Selain itu, terdapat para pedagang yang menjual buah pisang dengan rasa yang manis dan segar.

Kedua Madya Mandala atau bagian tengah (Jabe Tengah). Pada bagian tengah ini terdapat dua buah kolam air berbentuk persegi panjang dan biasanya digunakan oleh pemeluk agama Hindu untuk menyucikan diri mereka.

Air dalam kolam ini bersumber dari mata air yang alami dan dipercaya oleh banyak orang memiliki kekuatan magis.
Kola mini dapat dinikmati oleh semua pengunjung namun jika Anda ingin menikmati kesegaran kolam ini, Anda diharuskan mengenakan sarung khusus yang sudah disediakan tempat penyewaannya di Jaba Sisi.

foto by instagram.com/srmartinh0/

Ketiga adalah Utama Mandala atau bagian utama (Jeroan). Pada bagian ini Anda akan disambut oleh sebuah kolam yang berukuran besar dan dibatasi oleh tembok batu.

Baca Juga  Upside Down World Bali, Destinasi Ciamik dan Unik

Kolam ini berfungsi untuk menampung air yang pada nantinya akan disalurkan ke pancuran yang berada di kolam penyucian yang dipenuhi oleh alga hijau dan juga ikan – ikan kecil.

Pada bagian belakang kolam ini, terdapat sebuah bangunan utama pura yang digunakan masyarakat hindu untuk bersembahyang atau beribadah.

Pada sisi – sisi kolam suci ini terdapat beberapa pancuran air yang berbentuk seperti cangkang keong, jumlah total dari pancuran tersebut sebanyak 30 buah dan berderet rapih membuju dari arah barat ke timur.

foto by instagram.com/alizuky/

Sebanyak 14 buah pancuran disebut dengan Pancuran Tirtha Pembersihan, 2 Pancuran Tirtha Pelebur Kutukan dan Sumpah, dan 6 Pancuran Tirtha Penyakit berat dan Tirtha Upakara. Setiap pancuran memiliki nama masing – masing dan juga fungsi serta manfaatnya yang berbeda – beda pula.

Pura Tirta Empul yang dibangun pada tahun 962 Masehi pada masa Pemerintahan Diinaswi Warmadewa ini memiliki desain arsitektur unik karena sudah berdiri sangat tua.

Selain itu, berdekatan dengan kawasan ini terdapat sebuah Istana Kepresidenan Tampaksiringg yang berada di sebelah barat. Istana tersebut dibangun pada tahun 1954 sebagai bentuk akomodasi bagi Presiden Pertama RI yakni Ir. Soekarno.

0/5 (0 Reviews)

Related Post

Leave a reply