Sempatkan Berkunjung ke Candi Badut Jika Datang ke Malang, Candi yang Tak Beratap dan Tak Berpelipit

1215 views

Candi yang biasa kita ketahui rata-rata berada di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Biasanya ada banyak cerita serta legenda yang melingkupi bangunan ini. Entah legenda percintaan, persaudaraan, ataupun perebutan tahta.

Di Jawa Timur pun juga ada bangunan bersejarah ini, selain Candi Kidal dan Candi Jago. Bahkan ia merupakan dan diyakini sebagai candi tertua di Jawa Timur.

Candi Badut, foto: weebly.com

Bangunan ini dikelilingi oleh Gunung Kawi di sebelah selatan, Gunung Tengger di utara, Gunung Arjuna di sebelah barat sedangkan di sebelah timur ada Gunung Semeru.

Penemuan Candi Badhut

Menuju lokasi, foto: sejarahbudayanusantara.weebly.com

Candi Badut atau Badhut diperkirakan ditemukan oleh Maureen Brecher pada tahun 1923. Waktu pertama kali ditemukan, ia hanya berbentuk gundukan dan reruntuhan bebatuan bercampur tanah. Situs ini tepat berlokasi di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia berlokasi sekitar 5 kilometer dari Kota Malang.

Kemudian pada 1925-1927, situs ini dibangun kembali di bawah pengawasan Jawatan Purbakala Hindia Belanda, B. De Haan. Pembangunan menemukan bahwa hanya bagian kaki yang masih terlihat susunannya tapi tidak dengan bagian lain.

Bermain di sekitar, foto: terakota.id

Batu-batu yang ditemukan di sekitar situs dipilah dan dikumpulkan menurut jenis dan ukuran. Lalu dicoba untuk disusun kembali. Akhirnya, pada 1926, seluruh bangunan bagian kaki dan tubuh dapat dibangun kembali tapi tidak bagian atap.

Kemudian, untuk memperindahnya serta menyempurnakan bentuk, pemugaran dilakukan kembali pada 1990-1991.

Struktur

Jalan menuju bangunan candi, foto: tripadvisor.com

Candi Badut dapat dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan strukturnya, yaitu bagian kaki, badan, dan puncak. Pada bagian kaki yang disebut juga Bhurloka adalah gambaran dari alam manusia. Ada alas penyangga yang menopang bagian ini. Bentuknya persegi panjang. Bentuk bangunan ini benar-benar polos tanpa pelipit ataupun ornamen. Ada delapan anak tangga pada sisi barat. Pipi tangga berbentuk lengkungan berujung ukel. Sedangkan pangkalnya terdapat hiasan Kala Naga. Tiap pipi tangga berhias Kinara atau Burung Khayangan.

Baca Juga  20 Tempat Makan Seru dan Romantis di Sidoarjo

Kemudian bagian badan situs memiliki pelipit polos, padma berpelipit dan setengah bundaran berpelipit. Biasanya bagian badan dinamakan Vimana atau Bwahloka, yaitu gambaran alam dengan langit. Ukuran badan sebesar 7,5 meter x 7,4 meter x 3,62 meter.

Taman di sekitar, foto: sejarahbudayanusantara.weebly.com

Terakhir, bagian puncak yang bernama Cikhara disebut Swahloka. Ini menggambarkan alam sorgawi atau khayangan para dewa. Bagian puncak sulit untuk diamati karena sudah tak jelas.

Struktur bangunan masih belum komplit seakan memberikan imajinasi bagi Anda, seorang pelukis ataupun arsitek. Anda bisa mengira-ngira menggunakan sketsa, bagaimana bentuk puncak situs berdasarkan coraknya.

Sejarah

Kolam yang ada di lokasi wisata, foto: sejarahbudayanusantara.weebly.com

Pendapat sebagian ahli purbakala menyatakan bahwa pendiri situs ini adalah Raja Gajayana. Ini karena perintah beliau yang berasal dari Kerajaan Kanjuruhan untuk mendirikan candi. Dimana pusat Kerajaan Kanjuruhan terletak di daerah Dinoyo menurut Prasati Dinoyo pada tahun 760 M. Prasasti ini ditemukan di Desa Merjosari, Malang, Jawa Timur.

Prasasti ini juga menceritakan tentang masa pemerintahan Raja Dewasimba dan Sang Liswa, putranya. Masa keduanya adalah masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan. Sang Liswa yang bergelar Raja Gajayana ini, konon, sangat senang melucu atau dalam bahasa Jawa disebut mbadhut. Kemudian candi ini dinamakan Candi Badhut, walau belum ada bukti kuat keterkaitan Raja Gajayana dengan bangunan ini. Namun, menurut wikipedia,  ada juga dugaan bahwa kata Badhut diduga berasal dari bahasa Sansekerta. Nama Bha-dyut memiliki arti sorot Bintang Canopus atau Agastya.

Sejarah candi badut, foto: klimg.com

Gajayana juga membuat arca perwujudan Resi Agastya yang terbuat dari batu hitam. Sayang, arca ini tidak dapat ditemukan. Hanya Lingga dan Yono, yaitu simbol Siwa dan Parwati pada arca Durga Mahisasuramardini.

Baca Juga  20 Restoran Pemuas Lapar di Kediri

Situs ini memiliki ciri khas yang membedakan dengan dengan candi lain yang ada di Jawa Timur. Yang paling terlihat adalah pahatan Kalamakara yang mengiasi ambang pintu. Pada umumnya, relief kepala raksasa di candi wilayah Jawa Timur dibuat lengkap dengan rahang bawang. Tapi Kalamakara di sini mirip dengan candi di daerah Jawa Tengah, dibuat tanpa rahang bawah. Kemiripannya juga dimiripkan dengan Candi Dieng yang letaknya di Jawa Tengah. Kemiripan ini dalam bentuk serta reliefnya yang simetris. Diyakini, Candi Badhut adalah Candi Syiwa, walau belum ditemukan arca Agastya di dalamnya.

Salah satu peninggalan yang ada, foto: sejarahbudayanusantara.weebly.com

Situs ini dibangun dari batu Andesit. Dinding dihiasi relief burung berkepala manusia dan peniup seruling. Ada juga relung-relung berhias bunga dan burung berkepala manusia di keempat sisi tubuh candi. Sebenarnya, di luar sisi utara tubuh situs ini ada arca Durga Mahisasuramardini yang sudah rusak.

Seharusnya terdapat arca Syiwa Guru di sisi selatan dan Arca Ganesha di sisi timur. Namun keduanya sudah tidak ada di tempatnya lagi.

Rute Menuju Lokasi Situs

Salah satu arca, foto: sejarahbudayanusantara.weebly.com

Lokasi situs yang masih berada di kawasan Tidar ini, dekat dengan Universitas Ma Chung. Anda bisa berjalan kaki selama 15 menit ke arah timur. Dikutip dari wikipedia, situs ini bisa ditempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar arah Institut Teknologi Nasional.

Selain itu, jika Anda menggunakan kendaraan pribadi dari kota Malang, silakan terlebih dahulu menuju Jalan Retawu. Silakan ikuti jalan ke arah barat melewati Jalan Bondowasi, lanjut ke Jalan Tidar, Jalan Puncak Mandala, Jalan Puncak Yasmin, sampai ke Jalan Esberg. Setelah itu, Anda belok kanan melewati ujung Jalan Himalaya. Anda pun bisa menemukan Jalan Candi VD. Lihat di sisi kiri jalan, tepatnya di depan TK Dharma Wanita II Karangbesuki, situs ini berada.

Baca Juga  10 Tempat Makan di Tunjungan Plaza, Kuliner Makanan Enak dan Murah Sekitar Surabaya

Harga Tiket Masuk

Bagian depan candi, foto: wikimedia.org

Bangunan yang menghadap ke arah barat ini tidak dikenakan tarif khusus. Hal ini dikarenakan tempat ini selain memiliki fungsi sebagai wisata sejarah juga digunakan untuk upacara keagamaan bagi pemeluk agama Hindu.

Fasilitas di area ini meliputi tempat informasi, kamar mandi serta lahan parkir. Di tempat informasi, Anda bisa mendapatkan penjelasan, artikel serta profil dari situs ini. Anda pun bisa menemukan berbagai jajanan di sekitar area. Sehingga Anda tak perlu khawatir jika tiba-tiba merasa lapar ataupun haus setelah puas berwisata sejarah atau mengambil foto di situs ini.

Selain Candi Badhut

Pemandangan di sekitar, foto: sumbersejarah1.blogspot.co.id

Ada satu lagi situs yang merupakan akulturasi dari candi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan sebagian pakar menyebit situs ini sebagai prototipe candi Jawa Timuran. Berikut rangkumannya, Candi Kidal dibangun pada 1228 M.Menurut peta berjarak 17 kilometer dari Candi Badut. Kawasan ini dikatakan merupakan pemujaan yang paling tua di Jawa Timur dan bercorak agama Hindu. Tujuan dibangunnya adalah mendarmakan Raja Anusapati, agar Ia mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Bangunan ini juga masih berkaitan dengan cerita dari Mataram Kuno.

Pada bulan Juni 2017, tepatnya di Desa Kebonsari, Kecamatan Purwodadi, Purworejo ditemukan batu kotak yang diyakini sebagai bagian dari sebuah candi. Masyarakat meyakininya sebagai bangunan situs karena cerita turun temurundari sesepuh. Bahkan ada yang menyebutnya Candi Wurung. Menurut cerita dari sesepuh setempat lokasi penemuan ini merupakan bangunan situsyang gagal di bangun. Itulah disebut Candi Wurung., karena wurung  berarti gagal atau tertunda.

Pemandangan sekitar dari ketinggian, foto: klimg.com

Lokasi: Jalan Candi VD, KarangWidoro, Dau, Kota Malang, Jawa Timur 65146
Map: Klik Disini
HTM: Gratis
Buka/Tutup: 08.00-15.00
Telepon: –

Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply